Category Archives: Uncategorized


 
« on: February 27, 2008, 07:23:13 PM »
 

Surat Cinta Suami

Kiss

Suami saya adalah seorang yang sederhana, saya mencintai sifatnya yang alami

dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul di perasaan saya, ketika saya

bersandar di bahunya yang bidang.

Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa pernikahan, saya

harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-alasan saya mencintainya

dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.

Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif serta

berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang

menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan.

Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang.

Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam

pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.

Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya

menginginkan perceraian.

“Mengapa?”, tanya suami saya dengan terkejut.

“Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan,”

jawab saya.

Suami saya terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya,

tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.

Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat

mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya?

Dan akhirnya suami saya bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah

pikiran kamu?”

Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan,”Saya punya

pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam perasaan saya, saya

akan merubah pikiran saya :

“Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yg ada di tebing gunung.

Kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati.

Apakah kamu akan memetik bunga itu untuk saya?”

Dia termenung dan akhirnya berkata, “Saya akan memberikan jawabannya besok.”

Perasaan saya langsung gundah mendengar responnya.

Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar kertas

dengan

oret-oretan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang

bertuliskan ……

“Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya

untuk menjelaskan alasannya.”

Kalimat pertama ini menghancurkan perasaan saya.

Saya melanjutkan untuk membacanya.

“Kamu selalu pegal-pegal pada waktu ‘teman baik kamu’ datang setiap

bulannya, dan saya

harus memberikan tangan saya untuk memijat kaki kamu yang pegal.”

“Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi ‘aneh’.

Saya harus membelikan sesuatu yang dapat menghibur kamu di rumah atau

meminjamkan lidah saya untuk menceritakan hal-hal lucu yang saya alami.”

“Kamu selalu terlalu dekat menonton televisi, terlalu dekat membaca buku,

dan itu tidak baik untuk kesehatan mata kamu. Saya harus menjaga mata saya

agar ketika kita tua

nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kuku kamu dan mencabuti uban

kamu.”

“Tangan saya akan memegang tangan kamu, membimbing kamu menelusuri

pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan

warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajah kamu.”

“Tetapi Sayang, saya tidak akan mengambil bunga indah yang ada di tebing

gunung itu hanya untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air mata

kamu mengalir.

“Sayang, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintai kamu lebih dari

saya mencintai kamu. Untuk itu Sayang, jika semua yang telah diberikan

tangan saya, kaki saya,

mata saya tidak cukup buat kamu, saya tidak bisa menahan kamu untuk mencari

tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakan kamu.”

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur,

tetapi saya tetap berusaha untuk terus membacanya.

“Dan sekarang, Sayang, kamu telah selesai membaca jawaban saya.

Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkan saya untuk

tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang

berdiri di sana menunggu jawaban kamu.”

“Jika kamu tidak puas dengan jawaban saya ini, Sayang, biarkan saya

masuk untuk membereskan barang-barang saya, dan saya tidak akan mempersulit

hidup kamu. Percayalah, bahagia saya adalah bila kamu bahagia.”

Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu

dengan wajah

penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaan saya.

Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari

dia mencintai

saya.Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur

hilang dari perasaan kita, karena kita merasa dia tidak dapat memberikan

cinta

dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir

dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan

kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu.

Karena cinta tidak selalu harus berwujud “bunga”.

(BY:http://gilaforum.com/index.php?topic=101.0)

Mahasiswi Diculik dan Diperkosa
Ilustrasi
Artikel Terkait:

Jumat, 22 Februari 2008 | 07:47 WIB

JAKARTA, JUMAT-MAHASISWI Universitas Bina Nusantara (Binus), Lus, disekap dua hari di sebuah hotel di Bekasi oleh tiga pria. Gadis berkulit putih dan berambut lurus sepunggung itu dirampok luar dalam.

Dua hari terkelam bagi gadis berwajah oriental itu bermula ketika Lus seorang diri berdiri di depan Mal Citra, Jalan S Parman, Grogol, Jakarta Barat, Sabtu (16/2) malam. Mahasiswi itu menunggu taksi untuk pulang ke rumah kosnya di Palmerah, Jakarta Barat. Saat itulah, seorang pria menodong Lus dengan pisau. Gadis berusia 20 tahun itu lantas dipaksa masuk ke sebuah mobil Isuzu Panther sekitar 10 meter dari tempatnya berdiri. Di dalamnya terdapat dua pria. Lalu, tangan Lus diikat sedangkan matanya ditutup kain. Mobil tersebut lantas meluncur ke Bekasi.

Sepanjang perjalanan ke Bekasi, Lus diikat dan diancam sehingga tidak berani melawan. Dia juga jadi obyek pelecehan seksual para pria itu. Mobil kemudian berhenti di sebuah hotel di Jalan Cut Meutia, Bekasi Timur. Mahasiswi asal Makassar, Sulawesi Selatan, itu pun dibebaskan dari ikatan dan disuruh memesan kamar kepada petugas hotel.

Menurut Kasat Reskrim Polrestro Jakarta Barat Kompol Sujudi, sejauh itu Lus tidak memiliki kesempatan untuk minta tolong karena dibayang-bayangi para pria tersebut. “Lus tak bisa berbuat apa-apa karena ketiga pria itu berada di belakangnya dan mengancam akan membunuh jika Lus macam-macam,” tuturnya, Kamis (21/2).

Di kamar hotel, ketiga pria itu kembali mengikat Lus. “Mereka lantas berusaha memerkosa namun Lus melawan dan berontak,” kata Sujudi. Perlawanan Lus membuat ketiga pria itu naik pitam. Mereka lantas memukuli Lus dan memberinya obat bius. “Lus jadi tidak sadarkan diri. Ketika siuman, kondisinya sudah lusuh,” imbuhnya.
Diduga, selama tidak sadarkan diri, mahasiswi itu diperkosa. Menurut Sujudi, Lus tersadar pada Minggu (17/2) siang. Saat itu, ketiga pria yang menyekapnya sudah tidak ada. Sedangkan barang-barang berharga milik Lus, yakni dua handphone (HP) dan uang Rp 100.000 raib.

Lus kemudian minta tolong petugas hotel. Dia pun lantas menghubungi sang kakak yang tinggal satu kos dengannya di Kemanggisan, Palmerah, Jakarta Barat. Sang kakak lantas menjemput Lus dan mengantar melaporkan kejadian tersebut ke Porestro Jakarta Barat. Ketika meminta keterangan Lus, polisi mendapatkan gambaran tentang kronologi peristiwa itu dan para pelakunya. “Kami lalu melakukan investigasi. Berdasarkan keterangan korban tentang ciri-ciri pelaku, ada beberapa kelompok yang kami curigai,” tutur Sujudi.

Pada Kamis (21/2) siang, polisi menangkap Alex (30), warga Pulogadung, Jakarta Timur, yang terlibat perampokan dan pemerkosaan itu. Sedangkan dua kawan Alex hingga semalam masih dicari. “Mereka kawanan pencuri. Awalnya mereka berniat untuk mengambil telepon genggam Lus. Tapi karena mereka menilai Lus cantik, akhirnya mereka melakukan penyekapan dan pemerkosaan,” papar Sujudi.

Sementara itu, menurut seorang petugas, Alex sempat mengatakan bahwa ia dan teman-temannya tidak menodong dan memerkosa Lus. “Menurut Alex, Lus adalah jablay (maaf, pelacur-Red) . Mereka membawanya dari Diskotek Millenium di Jalan Gajah Mada,” tuturnya. Pengakuan Alex ini sempat membuat polisi bertanya-tanya karena sangat berbeda dengan pengakuan Lus.

Berdasarkan catatan Warta Kota, sejumlah mahasiswa maupun mahasiswi Binus pernah menjadi korban kejahatan. Sebelum kasus yang menimpa Lus, ada sebuah kasus penculikan yang korbannya adalah Probo Pramono, mahasiswa semester I Fakultas Ilmu Komputer Binus. Peristiwa yang menimpa Probo terjadi 23 Januari 2008. Saat itu, Probo dalam perjalanan ke rumahnya di Glodok, Jakarta Barat. Di tengah jalan, ia dicegat oleh empat pria. Probo lalu dipaksa masuk taksi dan dibawa ke Depok, Jawa Barat. Probo diikat dan dipukuli. Uang tabungannya dikuras oleh para penculik. Para penculik juga meminta tebusan Rp 200 juta kepada orangtua Probo.

Namun Probo dapat melarikan diri, sementara orangtua Probo tidak sampai menyerahkan uang tebusan itu. Sampai berita ini diturunkan keempat penculik Probo belum tertangkap. Peristiwa yang mengerikan terjadi pada awal Agustus 2005, menimpa Yenny Ho, mahasiswi jurusan Akutansi Komputer, Binus. Yenny ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan di rumah kosnya di Palmerah. Belakangan terungkap, mahasiswi itu dihabisi oleh penjaga rumah kos. (Warta Kota/Toto Sunandar)

Hello,Thanks for see